SMP Nusa Bangsa yang semula terkesan damai dan syahdu, tiba-tiba pecah
oleh hiruk pikuk para siswa. Semua pintu kelas telah terbuka lebar untuk
siswa-siswi yang akan kembali ke rumah. Mereka tampak saling berebutan
menuju halaman sekolah.
Di
halaman sekolah, Livia, Zizy, A’yun, dan Qory sedang menunggu sahabat2
mereka yang lain, yaitu Arsya, Fian, Romi, Marvel, dan Nuri. Setelah
kelima cowok itu datang, mereka segera pulang ke rumah bersama-sama.
Itulah yang mereka lakukan setiap hari, berangkat sekolah, istirahat di
kantin, bahkan pulang sekolah pun mereka bersama-sama, karena mereka
semua bersahabat sejak kecil. Tapi lain bagi Arsya dan Marvel, karena
Arsya adalah murid pindahan dari Indramayu, Jawa Barat. Sedangkan Marvel
adalah mantan pacar Livia. Meski begitu, mereka tetap menjalin
persahabatan dengan keduanya. Yah,, persahabatan sejak kecil, sekarang
dan mungkin untuk selamanya.
Suatu hari di bulan April 2010, Livia mendapat masalah dengan pacarnya
yaitu Arinal. Karena Arinal sudah tidak pernah menghubungi Livia lagi,
dan itu yang membuat Livia menjadi sedih, Livia berpikir bahwa Arinal
sudah tidak mencintai dia lagi, sudah berkali-kali Livia meminta
pendapat pada ketiga sahabatnya, yaitu Zizy, A’yun, dan Qory, tapi
mereka selalu meminta Livia untuk memutuskan hubungan dengannya dan
mencari cowok yang lebih baik lagi, karena memang sudah sejak awal
mereka tidak pernah menyetujui hubungan Livia dengan Arinal. Hingga
Livia meminta pendapat pada sahabatnya yang lain, yaitu Arsya, Fian, dan
Romi, tetapi jawaban mereka sama saja, Livia bingung dan sudah tidak
tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Tetapi Arsya selalu menghiburnya,
dia selalu memberikan motivasi kepada Livia, hingga sedikit demi sedikit
hubungan mereka semakin dekat dan semakin akrab, dan kini Arsya lah
yang menggantikan Arinal dalam inbox sms di hp-nya Livia. Dan lambat
laun pula, timbul chemistry dalam hati mereka berdua.
Pada suatu hari, terjadilah pertengkaran antara Livia dengan Arsya,
awalnya Arsya marah kepada Livia karena suatu hal, dan Livia sudah
meminta maaf, tetapi Arsya berat untuk memaafkannya, hingga Livia nekat
membohongi Arsya dengan cara menyamar menjadi seseorang yang bernama
Vina agar dia bersedia memaafkan Livia. Awalnya Arsya percaya, dan pada
suatu sore setelah pulang sekolah, hari itu hujan deras, Arsya meminta
pada Livia untuk menemuinya di kebun belakang rumah, walau saat itu
hujan deras, tapi Livia tetap datang dan dengan tubuh basah kuyup,
disitulah Arsya memaafkan Livia. Setelah kejadian itu, hubungan mereka
berdua kembali membaik seperti semula, hingga pada suatu hari,
kebohongan Livia terbongkar, Arsya tahu bahwa selama ini Vina itu adalah
Livia sendiri, dan Arsya berpikir bahwa Livia membohongi dirinya agar
bisa memanfaatkannya untuk bisa memaafkan Livia, akhirnya terjadilah
pertengkaran besar antara Arsya dan Livia, berkali-kali Livia meminta
maaf pada Arsya tetapi Arsya menolak, hingga Livia pun menyerah dan dia
membiarkan Arsya melampiaskan kekesalannya dengan cara menjauhi Livia
dan berhenti menghubungi Livia. Sudah 1 minggu berlalu, Arsya masih
tetap belum memaafkan Livia, dan pada suatu malam, Livia merenung
sendiri di luar rumah, dia sedih karena sampai saat itu Arsya belum juga
memaafkannya, dia juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain
menunggu keputusan Arsya untuk mau memaafkannya, tanpa tersadar dia
menangis, sambil menatap bintang2 di langit malam, dia berdo’a kepada
tuhan agar Arsya mau memaafkannya, tiba-tiba Livia mendapat sms dari
Fitri, temannya yang 1 rumah dengannya, Romi, dan juga Arsya. Dalam sms
itu, Fitri bertanya2 tentang Arsya, setelah mengetahui kejadian yang di
alami oleh Livia dan Arsya, Fitri menyuruhnya untuk menghubungi Arsya
lewat sms, tetapi Livia menolak karena dia tahu bahwa Arsya tidak akan
membalasnya, dan dia takut Arsya akan marah padanya. Tapi Fitri terus
mendesaknya. Akhirnya Livia memberanikan diri untuk menghubungi Arsya
kembali, dan tidak disangka, Arsya membalas sms Livia, dan pada malam
itulah Arsya kembali memaafkan Livia, dan pada saat itulah Livia tahu
bahwa Arsya lah yang mendesaknya untuk menghubunginya dengan berpura2
menjadi Fitri. Sejak kejadian itu, Arsya semakin tahu dan mengenal siapa
Livia sebenarnya, Arsya mengetahui semua sifat luar dan sifat dalam
Livia. Dan sejak kejadian itu pula, Livia semakin merasa bahwa dia punya
perasaan dengan sahabatnya, Arsya.
Di bulan Juni 2010, saat liburan akhir semester, Arsya pulang ke kota
asalnya, yaitu Indramayu, walaupun Arsya dan Livia berjauhan, tetapi
mereka tetap berhubungan lewat sms, dan pada suatu hari Livia menyatakan
perasaannya kepada Arsya, Dia berterus terang bahwa dia mulai jatuh
cinta padanya sejak kejadian pertengkaran itu, Livia berkata bahwa dia
tidak bisa menahan lagi perasaannya, dia pikir perasaannya pada Arsya
begitu kuat, dan ternyata Arsya membalas pernyataan cinta Livia, tak
disangka bahwa Arsya pun mencintai Livia, tetapi sayangnya, cinta mereka
tidak bisa bersatu, karena mereka berdua sama2 sudah ada yang punya,
mereka berdua sama2 sudah mempunyai kekasih, dan mereka berdua juga tahu
akan hal itu, akhirnya Arsya terpaksa memutuskan untuk tetap menjalin
cinta dengan Livia tanpa status, dan tetap menjalani hubungan dengan
kekasih masing2, dan Livia pun menyetujuinya karena sudah tidak ada cara
lagi untuk mereka berdua, sedangkan mereka berdua sendiri tidak bisa
mengakhiri cinta mereka begitu saja. Hal yang lain terjadi pada A’yun
dan Fian, pada saat yang sama, Fian menyatakan cintanya kepada A’yun,
tak disangka bahwa Fian sudah lama menyimpan perasaan cintanya itu
selama 5 tahun, dan akhirnya A’yun pun menerimanya dan mereka resmi
menjalin hubungan.
Yah, cinta yang berawal dari sebuah persahabatan. Dan hari-hari baru pun
mulai mereka jalani bersama2. Sahabat2 mereka pun sudah mengetahui
semua yang terjadi antara Livia dan Arsya dan mereka mendukungnya.
Seiring dengan berjalannya hubungan Livia dg Arsya, hubungan Livia dan
Arinal tidak pula membaik, hubungan mereka semakin renggang, dan Livia
pun semakin yakin bahwa yang dulu pernah dikatakan oleh ketiga
sahabatnya itu adalah benar. Livia juga semakin yakin untuk memutuskan
hubungannya dengan Arinal, tetapi Arsya selalu mencegahnya. Arsya tidak
ingin Livia putus dengan Arinal yang disebabkan oleh kehadiran dirinya
di tengah-tengah hubungan mereka berdua. Tetapi Livia tetap pada
keputusannya. Awalnya Arsya mencegahnya, tetapi Livia meyakinkan Arsya
bahwa keputusannya itu bukan semata-mata disebabkan oleh kehadiran Arsya
dalam hidupnya, melainkan karena Livia memang sudah tidak lagi
mencintai Arinal lagi, dan dia sudah terlanjur sakit hati karenanya.
Akhirnya Arsya pun percaya dan mau menerima keputusan Livia dan sejak
itu, status Livia menjadi single kembali.
Pada bulan Agustus 2010, Arsya pun mendapat masalah yang sama dengan
kekasihnya Sella, hubungan mereka pun putus di tengah jalan, dikarenakan
Sella terpaut hati dengan yang lain. Arsya sangat terpukul, dia sangat
sedih dan kecewa dengan keputusan Sella, Arsya bingung harus bagaimana,
dia pun menghubungi Livia dan menceritakan semua yang terjadi padanya,
dalam hati Livia senang juga sedih, dia senang karena sudah tidak ada
lagi yang memiliki Arsya dan itu memudahkannya untuk mendapatkan Arsya,
tapi di lain hati dia juga sedih melihat Arsya yang sedih dan terpukul
karenanya, Livia tak sampai hati melihat Arsya terpuruk dalam kesedihan
seperti itu, Livia pun bingung harus berbuat apa, dia hanya bisa
menghibur Arsya lewat sms, karena saat itu Arsya tak lagi bersamanya,
Arsya kembali ke Indramayu, berkali-kali dan berhari-hari Livia terus
menghibur Arsya, hingga Livia pikir Arsya mampu melupakan Sella begitu
juga dengan kenang2annya. Tapi ternyata, tak semudah itu bagi Arsya
untuk menjauhi Sella, bahkan melupakannya. Sudah 4 bulan berlalu sejak
tragedi cinta Arsya di bulan ramadhan, hubungan Livia dengan Arsya pun
semakin dekat, semakin membaik, dan semakin serius, tetapi Arsya masih
belum bisa untuk menjadi milik Livia sepenuhnya, Livia pun hanya bisa
pasrah menerima keadaan cintanya saat ini, karena dia tak mau terlalu
memaksa Arsya untuk menjadi milik dia sepenuhnya. Pada bulan November
2010, Livia, Arsya, Fian dan semua sahabatnya merayakan hari ultah A’yun
di rumahnya. 2 hari sebelum hari H, Livia dan sahabatnya yang lain
merencanakan sesuatu untuk memberikan kejutan pada A’yun, dan ternyata
kejutan itu pun sukses besar, hari itu adalah hari yang sangat
membahagiakan untuk A’yun dan Fian, Livia dan Arsya, dan juga
sahabat2nya yang lain. Dan pada bulan ini juga, menjadi bulan yang
sangat membahagiakan bagi Livia dan Arsya, karena di bulan ini, hubungan
mereka semakin tumbuh harum mewangi, Arsya semakin menyayangi Livia,
dari hari ke hari, sikap Arsya pada Livia pun semakin mesra dan
romantic, begitu juga dengan Livia.
Tetapi sayangnya, keadaan itu tidak bertahan lama, mulai memasuki bulan
Januari 2011, hubungan mereka pun renggang dikarenakan Livia mendengar
kabar bahwa Arsya kembali dekat dengan mantan pacarnya, yaitu Sella.
Kabar tersebut membuat Livia sangat kesal, bahkan Arsya pernah berduaan
dengan Sella di depan kelas Livia, dan Livia melihatnya ketika kelas
bubar, hingga Livia tidak mau keluar dan itu membuat teman-temannya
keheranan.
“Kenapa kamu Liv..? koq nggak jadi keluar.. padahal kan kamu tadi
bersemangat banget pengen pulang..” Kata Bella. “Tuh, liat aja sendiri,
ada pemandangan yang bikin sakit hati.!!” Kata Livia kesal. Lalu Bella
pun keluar dan melihat Arsya berduaan dengan Sella, dan menyindir
mereka, “Ehm2, pacaran koq di sekolahan sich.. Inget2, ini sekolah,
bukan tempat pacaran..!!” Sindir Bella. Dan mereka berdua pun pergi.
Saat sampai di rumah, Arsya mendekati dan menggoda Livia, tetapi Livia
malah menampakkan wajah kesalnya, hingga membuat Arsya terheran-heran
dan bertanya pada Livia.
“Dek, kenapa sich..?? koq cuek gitu,,,” Tanya Arsya.
“Tau dech, pikir aja sendiri,,!!” Kata Livia kesal.
“Iiicch, marah ya.. Ada apa sich emangnya..??” Tanya Arsya bingung.
“Huh, udah puas ya tadi berduaan di depan kelas..!! Nggak tau malu banget sich..!! Bikin sakit hati aja..!!” Kata Livia marah.
“Berduaan..?? Ya ampun.. Jadi gara2 itu.. Gitu aja koq marah sich..” Kata Arsya.
“Kamu ini gimana sich, gimana nggak marah coba,! Aku pikir kamu udah
bisa lupain si Sella, tapi ternyata ini malah berduaan, di depan kelas
aku lagi,,!! Gila kamu ya..!!” Kata Livia yang semakin marah.
“Ya udah, aku minta maaf dech,, nggak akan ngulangin yang kayak gitu lagi,, maafin aku ya dek..” Kata Arsya meminta maaf.
“Tau ah..!! Udahlah, males aku ngomong sama kamu..!!” Kata Livia berlalu.
”Tunggu2.. Jangan gitu donk,, aku kan udah minta maaf, iya2 aku janji, maaafin aku ya My Princess..” Bujuk Arsya.
“Ya udah iya, aku maafin, tapi bener ya jangan di ulangin lagi, janji..!!” Kata Livia sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
“Iya, aku janji adekku tersayang..” Kata Arsya membalas. “Nah, sekarang
senyum donk.. jangan cemberut gitu, jelek tau..” Kata Arsya lagi sambil
mencubit pipi Livia.
“Hufft, iya sayang…” Kata Livia tersenyum senang.
Setelah kejadian itu, hubungan mereka pun kembali normal. Dan dari
kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa mereka berdua saling menyayangi,
dan cinta mereka berdua begitu kuat, dan tak bisa terpisahkan. Dan
mereka pun menjalani hari-hari indah seperti biasanya.
Pada bulan Februari 2011, terjadi pertengkaran kembali antara Livia dan
Arsya, karena Arsya melihat dan mengetahui bahwa Livia kembali
berkomunikasi dengan mantan pacarnya yaitu Marvel, Arsya cemburu begitu
melihat Livia SMS_an dengan Marvel, Livia yang mengetahuinya segera
meminta maaf pada Arsya, tetapi Arsya diam saja, seakan-akan dia tak mau
memaafkan Livia, 5 hari Livia menjalani hari tanpa Arsya di sampingnya,
Livia sedih dan meminta maaf kembali pada Arsya, bahkan Livia berkata
bahwa dia tidak akan berhubungan lagi dengan Marvel, tak akan membalas
sms Marvel lagi, dan bahkan akan menghapus nomer Marvel dari kontak
HPnya, setelah mendengar pernyataan Livia itu, Arsya pun akhirnya mau
memaafkan Livia. Dan pada bulan ini, LPP (Language Progress Program) di
sekolah mereka mengadakan tour di Jogjakarta untuk menyelesaikan tugas
terakhir mereka yaitu conversation dengan turis2 yang ada disana. Tetapi
kini, hanya Livia dan Qory yang ikut, karena A’yun dan Zizy sudah sejak
awal tidak mengikuti LPP. Saat berada dalam bis, Livia menghubungi
Arsya, dia meminta maaf karena tidak sempat berpamitan dengan Arsya
tadi saat di rumah, dan disitulah Livia berpamitan dengan Arsya,
sekaligus meminta do’a agar selamat sampai tujuan juga selamat sampai di
rumah dan agar lancar dalam menjalankan tugasnya saat disana. Setelah
itu mereka melanjutkan SMS_annya, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa
dalam bis itu dia sangat kedinginan, sedangkan sweaternya ada di dalam
tas dan Livia tak bisa mengambilnya karena sweater itu ada di dasar tas,
Arsya pun memberikan perhatiannya pada Livia dengan menyuruhnya untuk
mengambil sweater itu meskipun ada di dasar tas, demi Livia agar tidak
kedinginan lagi, dan selama dalam perjalanan tour itu Arsya selalu
memberikan perhatian pada Livia hingga Livia kembali. Livia juga tidak
lupa untuk memberi Arsya dan sahabat2nya oleh-oleh dari Jogja. Saat di
Malioboro, Livia membelikan kaos hitam Jack Daniel dan souvenir berupa
gantungan segitiga yang di dalamnya terdapat miniatur candi borobudur
untuk Arsya. Begitu juga dengan sahabat2nya. Livia juga membelikan
oleh-oleh berupa bakpia untuk sahabatnya juga untuk keluarganya, Livia
pun sampai di rumah kembali pada pagi harinya.
Dan pada bulan Maret 2011, tepatnya pada tanggal 4 dan 5, Livia, Zizy
dan A’yun pergi ke Malang untuk mengikuti Tes Penerimaan Siswa Unggulan
Baru di MAN 3 MALANG, sebelum pergi, Livia menyempatkan untuk berpamitan
dengan Arsya dan meminta dukungannya sekaligus do’a untuknya, begitu
juga dengan A’yun dengan Fian, mereka juga meminta dukungan dan do’a
kepada semua teman dan sahabatnya. Dan pada tanggal 10, Livia melihat
pengumuman kelulusan tes tersebut, tapi ternyata, Livia, Zizy dan A’yun
tidak lulus, Livia pun membicarakan hal itu dengan Arsya lewat sms, saat
SMS_an itu, Livia berkata bahwa mereka bertiga tidak lulus dan Livia
sangat sedih, lalu Arsya pun menghiburnya dengan berkata bahwa tidak
semuanya yang kita inginkan bisa tercapai, dan itu semua membutuhkan
proses, Arsya mengakui bahwa Livia adalah cewek yang pintar dan cerdas,
dan Arsya yakin bahwa Livia dan yang lainnya pasti bisa diterima pada
tes regulernya, Arsya berkata bahwa dia bangga bisa mempunyai cewek
seperti Livia yang pintar, karena dia tahu kalau Malang itu adalah
tempat sekolahnya anak-anak yang pintar,, mendengar hal itu, Livia
menjadi semangat dan tidak bersedih lagi, Livia pun berterima kasih pada
Arsya karena sudah memberinya dukungan dan semangat.
Pada tanggal 23 Maret, Livia merayakan ultahnya bersama dengan Arsya,
A’yun, Fian, Romi, Bella, dan Ana. Dua hari sebelumnya tepatnya tanggal
21 Maret, A’yun mempunyai rencana untuk ngerjain Livia habis2an, saat
malamnya, Livia mengirim SMS pada Arsya, tetapi Arsya tidak membalasnya,
setelah agak lama, Arsya membalas dan meminta maaf karena dia telat,
Arsya berkata bahwa dia keasyikan SMSan dengan Lia, cewek Indramayu
tetangganya, Livia pun kesal dan marah pada Arsya, dan saat itu juga,
A’yun sms Livia, dia berkata bahwa dia sangat marah sekali dengan Arsya
karena siang tadi Arsya mencubit pipinya di depan Fian, dan sekarang
A’yun bertengkar dengan Fian, A’yun pun meminta tolong pada Livia agar
Livia mau membantunya membicarakan masalah ini dengan Arsya, Livia pun
bingung harus bagaimana, karena saat itu Livia juga sedang bermasalah
dengan Arsya. Keesokan paginya, Livia bertemu dengan A’yun di sekolah,
A’yun marah2 pada Livia karena perbuatan Arsya kemarin, Akhirnya Livia
berjanji untuk membantunya, saat itu juga, Arsya ngerjain Livia lagi,
sehingga membuat Livia makin sedih, dan malam harinya, Livia berkata
pada Arsya lewat SMS tentang masalah A’yun itu, lalu Arsya meminta nomer
A’yun untuk meminta maaf, setelah agak lama, Livia merasa sudah
mengantuk dan dia ketiduran, tapi Arsya membangunkan Livia, Arsya
melarang Livia tidur karena Arsya kesepian dan tak bisa tidur, Arsya
meminta Livia untuk tetap menemaninya malam itu, Livia pun terpaksa
menyetujuinya. Pada pukul 12.00 malam tepat, Hp Livia berdering,
seseorang menelponnya, dia memakai privat number, Livia pun
mengangkatnya, “Surprise..!!!” Ternyata itu adalah Arsya, Arsya
mengucapkan met ultah pada Livia, Livia sangat bahagia sekali, Arsya
bercerita bahwa Lia, dan masalah A’yun dan Fian itu adalah bagian dari
sandiwara mereka untuk memberikan surprise ini padanya, Arsya juga
berkata bahwa dia menelponnya karena dia ingin menjadi orang pertama
yang mengucapkan met ultah ke Livia. Pada keesokan harinya tepatnya
tanggal 23 Maret, setelah pulang sekolah, Livia, Ana, Bella, dan teman2
lainnya yang tergabung dalam kelompok dance Livia mengadakan latihan di
rumahnya, saat perjalanan menuju rumah Livia, Ana menyiram Livia dengan
air yang dibawa oleh Ana dari rumah, Livia sangat terkejut, tapi Livia
tak bisa lari, setelah sampai di rumah, Ana menariknya sampai di kamar
mandi dan menyiram Livia kembali, Livia sangat malu, karena disitu ada
Arsya dan Fian. Setelah itu Livia mengganti bajunya dan mulai latihan
kembali. Tiba2 A’yun datang, dan langsung menuju ke atas menemui Fian
pacarnya, Arsya dan Romi, setelah itu dia turun lagi menemui Ana dan
meminta Ana untuk menemaninya ke atas. Setelah agak lama, Ana kembali
turun memanggil Livia dan mengajaknya ke atas juga, saat di atas, Ana
mengajak Livia untuk membicarakan sesuatu tentang kelompok dancenya di
luar, tiba2 dari belakang Arsya menyiramnya, disusul dengan siraman dari
A’yun, Fian, Romi, Ana dan Bella, Livia sangat terkejut juga bahagia,
setelah penyiraman selesai, tiba2 Arsya datang di hadapan Livia dengan
membawa sebuah kado di tangannya. Arsya mengucapkan met ultah sekali
lagi pada Livia, dan memberikan kado tersebut padanya, dan Arsya
menyuruh Livia untuk membukanya. Dan ternyata isinya adalah sebuah jam
tangan dan di dalamnya terdapat surat, Livia pun membacanya, dan Arsya
meminta Livia untuk segera memakai jam tangan itu, tetapi Livia
menolaknya karena jam tangan itu terlalu besar untuk ukuran tangan
Livia, tetapi Livia berjanji akan segera memakainya, setelah itu A’yun
dan Fian yang memberinya kado, isinya adalah 1 boneka semut besar, 1
boneka teddy kecil dan gantungan. Setelah semua teman2 Livia sudah
pulang, Marvel , mantan pacar Livia datang untuk mengucapkan met ultah
pada Livia. Setelah agak lama mengobrol, akhirnya Marvel pun pulang.
Malam harinya saat SMSan, Arsya berkata bahwa dia sangat bahagia karena
bisa merayakan hari ultah Livia, dia berkata bahwa dia sangat bahagia
ketika melihat Livia tersenyum dan tertawa bahagia seperti tadi dan
berharap bahwa hari bahagia itu akan selalu terjadi, sehingga Arsya
selalu bisa melihat Livia tersenyum selalu. Hari itu menjadi hari yang
sangat membahagiakan buat Livia, Arsya, dan sahabat2nya.
Pada akhir bulan Maret 2011 itu, Livia dan Arsya juga semua sahabat2nya
mengikuti ujian Try out UN. Dan pada tanggal 9 April, Livia mengajak
Fian untuk ikut memberikan surprise di hari ultah Arsya, pada pukul
10.00, Livia naik keatas untuk menemui dan memberikan kejutan itu untuk
Arsya, dengan membawa kue ultah buatannya sendiri, disertai dengan
nyanyian ultah ala Livia, membuat Arsya terkejut dan tersentuh hatinya,
setelah itu Livia menyuruh Arsya untuk meniup lilinnya dan memakan
kuenya, tetapi Arsya malah memberikan potongan kue pertamanya tersebut
pada Livia dan menyuapinya, setelah itu baru Arsya meminta Livia untuk
balik menyuapinya, Livia sangat bahagia, begitu juga Arsya yang merasa
bahagia dengan adanya surprise dari Livia. Setelah agak lama, tiba2 Fian
datang dan langsung melempar tepung yang ada di genggamannya pada
Arsya, belum puas dengan lemparan tepung itu, Fian pun melemparkan
tepung itu juga pada Livia, hingga mereka berdua sama-sama belepotan
karena lemparan tepung itu, saat melihat Livia yang wajahnya penuh
dengan tepung, Arsya pun tertawa dan mengusap wajah Livia dengan
tangannya, membersihkan tepung itu dari wajahnya, begitu juga Livia, dia
pun mengusapkan tangannya pada wajah Arsya yang penuh dengan tepung.
Setelah selesai membersihkan wajah masing-masing, Arsya menggenggam
tangan Livia dan berterima kasih pada Livia karena telah memberikan
surprise itu padanya, dia berkata bahwa dia sangat bahagia sekali hari
itu, lalu Arsya mencium kedua tangan Livia hingga membuat Livia tersipu
malu. Dan pada awal bulan Mei, Arsya meminta izin pada Livia untuk
pergi, pulang ke rumah asalnya di Indramayu. Awalnya Livia berpikir
untuk tidak mengizinkan Arsya pergi, tetapi Livia memikirkan kebahagiaan
Arsya juga, Livia berpikir bahwa Arsya butuh istirahat di rumah
asalnya, dan akhirnya Livia pun mengizinkannya. Dan Arsya pun berterima
kasih pada Livia dan mencium pipi Livia. Livia tersipu malu dan merasa
bahagia. Tepat di hari perginya Arsya, Livia diminta oleh sahabatnya
Fian untuk menemani dia mengantar kepergian Arsya ke stasiun. Awalnya
Livia ragu2 karena pada saat itu adik Livia sakit keras dan Livia
diminta untuk menjaga adiknya itu di rumah sakit. Karena Livia tidak
ingin melewatkan kesempatan indah itu, akhirnya Livia meminta izin pada
kedua orang tuanya dengan alasan reuni alumni, dan Livia pun ikut
mengantar kepergian Arsya ke stasiun bersama dengan Fian. Sebenarnya
Arsya tidak mengizinkan Fian untuk mengajak Livia ikut serta
mengantarnya karena dia takut akan terjadi sesuatu yang buruk padanya
saat di jalan nanti, tetapi Fian tetap bersikeras untuk mengajak Livia
dan dia berkata bahwa tidak akan terjadi apapun pada Livia dan dia juga
berjanji untuk menjaga Livia saat di jalan nanti, dan akhirnya Arsya pun
menyetujuinya dengan terpaksa. Saat tiba di stasiun, Arsya pun
mengucapkan kata terakhirnya sebelum meninggalkan Livia pergi. Dia
berpesan pada Livia untuk selalu menjaga kesehatannya selama tak ada
Arsya disampingnya, dan selalu mengingat Arsya dimanapun dan kapanpun,
dan akan selalu menjaga hati dan cintanya hanya untuk Arsya sampai
saatnya Arsya kembali. Livia pun menyetujuinya dan berjanji akan
melakukan semua yang diminta oleh Arsya. Begitupun sebaliknya dengan
Arsya. Kemudian Arsya pun mencium pipi dan kening Livia dan mengucapkan
salam perpisahan padanya. Dan setelah itu Arsya pergi meninggalkan Livia
dan Fian menuju kedalam peron. Setelah Arsya masuk, Livia dan Fian pun
pulang.
Satu minggu berlalu Livia jalani hari-harinya tanpa Arsya, tapi walaupun
mereka berjauhan, mereka tetap saling memberi kabar, saling sms_an,
saling merindu, dan masih tetap saling menjaga perasaan masing-masing.
Tetapi, kebahagiaan yang Livia rasakan tidak bertahan lama, sampai suatu
hari ada sebuah kejadian yang membuat hubungan mereka hancur
berkeping-keping.
Satu minggu sudah Livia menanti kabar dari Arsya yang tak kunjung
membalas satupun sms dari Livia. Livia sangat sedih dan tak hentinya
memikirkan Arsya. Sampai suatu hari, Livia mengirim sms pada Arsya yang
berisi bahwa Livia sudah tidak kuat lagi menahan semua penderitaan yang
sudah dia alami, Dia berkata bahwa lebih baik Livia pergi dari hidup ini
dan tak kembali untuk selama-lamanya, dan Livia pikir Arsya akan tetap
bahagia dan mungkin akan lebih bahagia jika melihat dan mendengar bahwa
dirinya sudah tiada, dan tidak akan ada lagi yang mengganggu
kehidupannya, dan terakhir Livia mengucapkan selamat tinggal untuk
selama-lamanya pada Arsya. Disertai dengan tangisan dan keputus-asaan,
Livia mengirimkan sms itu pada Arsya dan mulai mengambil sebuah cutter
yang digunakan untuk melukai lengannya sendiri. Tapi sayangnya, Arsya
tidak menggubris sms Livia, Livia semakin sedih dan semakin menggores
lengannya. Sahabatnya, A’yun dan Fian yang mengetahui hal itu langsung
mengirim sms pada Livia dan bertanya apa yang terjadi padanya. Tapi
Livia tidak menjawabnya, A’yun dan Fian semakin takut jika terjadi hal
yang buruk yang menimpa Livia. Esok paginya, A’yun dan Fian datang ke
rumah Livia untuk memastikan keadaan Livia, saat A’yun masuk ke kamar
Livia, A’yun menemukan Livia tergeletak dengan lengan penuh darah, A’yun
terkejut dan menjerit hingga Fian datang menyusul ke kamar, begitupun
dengan Fian, dia sangat terkejut melihat Livia tergeletak lemas disana.
Lalu tanpa pikir panjang, A’yun segera menyuruh Fian untuk mengangkatnya
dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit,
Livia pun dirawat dan dokter berkata bahwa Livia kehilangan banyak
darah, hingga dia harus melakukan transfusi darah dan sayangnya,
persediaan darah di rumah sakit sedang kosong. A’yun dan Fian terkejut,
mereka sangat sedih dengan apa yang menimpa sahabatnya, Livia. Mereka
semakin sedih saat tahu bahwa darah mereka tidak ada yang cocok untuk di
donorkan pada Livia dan satu-satunya orang yang darahnya cocok untuk di
donorkan darahnya hanyalah Arsya. Fian pun bertanya pada dokter sampai
kapan Livia bisa bertahan menunggu adanya donor darah tersebut, dan
dokter pun menjawab bahwa Livia masih bisa bertahan selama 3 jam.
Mendengar pernyataan dari dokter, Fian segera menelpon Arsya dan memberi
kabar padanya tentang keadaan Livia yang kritis saat ini. Setelah
berbicara panjang lebar, Fian kembali dengan tangan kosong, tanpa hasil,
Arsya tidak bisa datang saat itu juga karena sibuk, dan meminta maaf
pada mereka karena tidak bisa menolong Livia. Fian sangat kecewa dan
sangat marah pada Arsya, tetapi A’yun menenangkannya dan mengajak Fian
untuk tetap mencari donor darah untuk Livia. Saat A’yun dan Fian sudah
hampir menyerah dan waktu sudah hampir habis, tiba2 Marvel datang dan
berkata bahwa darahnya cocok dengan Livia dan dia bersedia untuk
mendonorkan darahnya pada Livia. A’yun dan Fian sangat senang dan
meminta Marvel untuk menemui dokter. Setelah tranfusi darah selesai
dilakukan, dokter berkata bahwa keadaan Livia berangsung-angsur membaik.
Mereka bertiga pun senang dan bersyukur bahwa sahabatnya akan sembuh,
A’yun dan Fian juga berterima kasih pada Marvel telah membantu mereka
juga Livia. Dan mereka pun bergantian menjaga Livia di rumah sakit. 3
hari sudah Livia jalani hari-hari buruknya di rumah sakit dan kini dia
sudah kembali ke rumah. A’yun pun bertanya pada Livia apa yang terjadi
padanya, dan mengapa Livia menggoreskan cutter tajam ke lengannya
sendiri. Livia pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan Arsya.
Mendengar cerita Livia, Fian jadi semakin marah pada Arsya, tiba2 Livia
menerima sms dari Arsya, dalam sms itu, Arsya marah2 pada Livia karena
sms Livia dulu, dia berkata bahwa saat itu Arsya pergi jalan2 dengan
teman2nya disana dan dia tidak membawa hp, hp nya dia tinggalkan di
rumah dan sms Livia saat itu di buka dan dibaca oleh orang tua Arsya,
hingga saat Arsya pulang, orang tuanya memarahi Arsya. Livia sangat
sedih dengan sms Arsya, dia sedih kenapa Arsya tidak bisa memahami
keadaan Livia dan malah memarahinya saat dia baru saja melewati
masa-masa buruknya. Setelah perdebatan yang panjang dengan Livia,
akhirnya Arsya berkata pada Livia bahwa lebih baik hubungan mereka hanya
sebatas teman biasa saja, tidak lebih karena Arsya menyadari bahwa
dirinya tidak bisa membahagiakan Livia dan malah membuatnya terluka,
Livia pun tidak setuju dengan pernyataan Arsya dan berkata bahwa selama
ini Livia tidak pernah merasa dilukai oleh Arsya dan semua yang terjadi
padanya itu bukan semata-mata karena Arsya, tetapi karena kesalahan
dirinya sendiri. Livia juga meminta maaf pada Arsya karena telah membuat
dia dimarahi oleh orang tuanya dan meminta Arsya untuk menarik
kata-katanya tadi. Livia juga menjelaskan bahwa jika Arsya merubah
hubungan mereka menjadi sebatas teman biasa saja, Livia akan semakin
sedih dan terluka, Livia akan lebih bahagia jika masih tetap bisa
bersama dengan Arsya hingga sampai tiba saatnya nanti mereka harus
berpisah. Arsya bingung dan tak bisa memutuskan hari itu juga, dan Arsya
pun mohon diri pada Livia untuk mengakhiri sms tersebut. Dan diakhir
sms, Arsya masih memberikan kiss bye nya untuk Livia. 1 hari setelah
kejadian itu, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan Livia sangat
bersyukur karena Arsya masih mau membalas sms nya, dan Arsya masih mau
memaafkan Livia dan tetap mengizinkan Livia untuk memanggilnya dengan
sebutan “Maz”. Dan 2 hari setelah itu, Livia dan Fian mengikuti rekreasi
ArSemA(Arek Sembilan A) ke Malang dengan tujuan ke beberapa tempat,
yaitu Masjid Turen, Wendit, Pasar Lawang dan terakhir adalah Wisata
makam Sunan Ampel di Surabaya. Awalnya Livia pergi dengan perasaan
bahagia, karena dia bisa pergi bersenang-senang dengan teman2 dan
sahabat2nya. Saat perjalanan pulang, dia mencoba untuk menghubungi Arsya
karena saat itu dia sangat merindukan Arsya. Tetapi ternyata Arsya
menjawab sms itu dengan jawaban yang tidak pernah diharapkan oleh Livia,
di sms itu dia malah memarahi Livia karena dia masih memanggil namanya
dengan sebutan “Maz”, dan Arsya meminta pada Livia untuk tidak
memanggilnya dengan sebutan itu lagi, Livia sangat sedih dan meminta
maaf pada Arsya dan mencoba untuk menjelaskannya tetapi Arsya tidak
peduli dan malah mengakhiri sms itu. Livia benar2 sedih dan menceritakan
kejadian itu pada sahabatnya, Fian. Fian terkejut dan mencoba untuk
membantu Livia karena dia merasa kasihan dengannya, Fian mencoba untuk
menghubungi Arsya tetapi semuanya sia-sia, karena Arsya sama sekali
tidak menggubris mereka. Livia semakin sedih, melihat hal itu, Fian
segera menghubungi A’yun untuk datang menghibur Livia, tetapi semua itu
juga sia-sia. Berkali-kali Livia mencoba menghubungi Arsya, tetapi Arsya
benar-benar tidak memperhatikannya, bahkan Livia sempat berpikir bahwa
Arsya sudah tidak mencintainya lagi, dia berpikir bahwa Arsya sudah
memiliki kekasih hati yang baru, yang membuat Livia semakin sedih,
hancur dan terluka. Pada malam harinya, Livia mencoba menghubungi Arsya
kembali, dan akhirnya Arsya mau mengangkatnya, dan disitu Livia meminta
maaf pada Arsya atas semua kesalahan yang telah dia perbuat selama ini,
dan menanyakan sebab Arsya tidak mengizinkannya lagi memanggil dengan
sebutan “Maz”. Tetapi Livia malah mendapatkan jawaban yang tidak pernah
diinginkan olehnya. Arsya memaafkan tetapi dia tidak mau memberikan
alasan kenapa dia tidak lagi mengizinkan Livia memanggilnya dengan
sebutan “Maz” lagi, Arsya hanya berkata bahwa lebih baik hubungan mereka
berdua hanya sebatas teman biasa saja, dan tak bisa melanjutkannya
lagi, dan mengenai alasan, Arsya tidak mau menjawabnya, dia hanya diam
saja. Livia sangat sedih dan mencoba membujuk Arsya, Livia berusaha
untuk membuat Arsya merubah keputusannya, tetapi Arsya tidak peduli dan
tetap pada keputusannya. Hal itu membuat Livia meneteskan airmatanya,
dan menangis memohon2 pada Arsya, tetapi sayangnya Arsya tidak bisa
merubah keputusannya itu, dan Arsya pun mengakhiri pembicaraan itu.
Sepeninggal Arsya, Livia terus meneteskan airmatanya hingga membuat
matanya bengkak. Livia sangat sedih dan terpukul saat mendengar langsung
keputusan Arsya untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah terlanjur
mereka jalani dengan hati yang tulus dan suci.
Esok paginya, Livia menceritakan semua kejadian yang telah dia alami
pada sahabat2nya, mereka semua sangat terkejut dan tak percaya dengan
apa yang Livia ceritakan. Fian, Marvel, A’yun dan Qory geram pada Arsya
atas apa yang sudah dia lakukan pada Livia. Dulu, mereka sangat
mempercayai Arsya untuk menjadi pengganti Arinal, untuk menjadi kekasih
hati Livia, mereka sangat mendukung Arsya, tetapi sekarang, mereka
benar2 geram pada Arsya dan merasa menyesal telah mempercayakan semua
itu pada Arsya. Fian dan Marvel adalah orang yang pertama kali merasa
kecewa dan marah pada Arsya, karena Fian mewakili ke-4 sahabat Livia
pernah memberikan kepercayaan seutuhnya pada Arsya untuk selalu menjaga
Livia, menjaga hati juga cintanya, tetapi semua itu malah di salah
gunakan oleh Arsya dan mengkhianati Livia. Sedangkan Marvel, sebagai
cinta pertama Livia dan orang yang pernah mengisi relung hati Livia yang
juga telah memberikan kepercayaan pada Arsya untuk selalu menjaga dan
mencintai Livia sepenuh hatinya, dan memberikan janji untuk tidak
menyakiti hati Livia dan mengkhianatinya. Kemudian, mereka mencoba untuk
menghibur Livia dan berkata untuk tidak terlalu terpuruk dalam
kesedihannya, karena mereka yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Arsya
itu demi kebahagiaan Livia juga. Akhirnya Livia pun mendengarkan nasihat
sahabat2nya dan mencoba untuk menerima semua takdir yang telah
diberikan untuknya dan Livia juga akan selalu menanti kedatangan Arsya
kembali.
2 Minggu kemudian, terdengar kabar bahwa Arsya telah kembali dan hal itu
membuat Livia senang, tetapi Livia kembali teringat dengan apa yang
telah terjadi diantara mereka berdua, hingga membuat Livia kembali
bersedih dan mencoba untuk menjaga jarak dengan Arsya. Saat itu, adalah
hari2 terakhir Livia bisa berkumpul dan bertemu dengan teman2nya, yaitu
Romi dan terutama dengan Arsya, karena 3 hari setelah itu, akan diadakan
acara wisuda tahun 2010/2011 di sekolah Livia. Sebenarnya Livia ingin
menciptakan lebih banyak kenangan manis lagi dengan sahabat2nya, begitu
pula dengan Arsya, tetapi hal itu sangat tidak mungkin, mengingat hal
yang sudah terjadi antara Livia dan Arsya, hingga Livia pun menyerah dan
tak mau memaksakan kehendak Arsya, walaupun begitu dia juga harus tetap
bersyukur karena pernah diberikan kesempatan yang sangat tak ternilai
harganya dan tak terhitung banyaknya untuk bisa menciptakan kenangan
manis itu berdua dengan Arsya.
Tibalah saatnya untuk Livia berpisah dengan semua sahabat2nya setelah
acara prosesi wisuda selesai. Saat di pertengahan acara, Livia sempat
menangis sesenggukan karena mengingat banyaknya kenangan manis yang
telah mereka buat bersama yang saat itu juga harus dia tinggalkan. Dan
pada akhir acara, Livia tak mau kehilangan kesempatan untuk berfoto ria
bersama sahabat2nya, bercanda dengan mereka untuk yang ke terakhir
kalinya sebelum mereka semua pergi meninggalkannya begitu juga
sebaliknya. Tetapi hanya 1 orang yang menolak untuk foto dengannya saat
itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Arsya sendiri, padahal Fian,
Romi, Marvel, dan Nuri mau memberikan kesempatan pada Livia untuk foto
bersama diri mereka secara bergantian, setelah Arsya dibujuk rayu dan
akhirnya dia tetap menolak ajakan itu, Livia pun menyerah dan membiarkan
Arsya dalam kesenangannya sendiri. Dari jauh Livia menangis melepaskan
kepergian Arsya dan dari jauh pula Livia mengucapkan selamat tinggal
pada Arsya untuk selama-lamanya.
Minggu, 09 Maret 2014
Diantara 2 Hari
Ada 2 hari yang kubenci setiap tahun. Aku berharap tidak pernah ada hari
itu setiap tahunnya. Sehingga aku tak perlu mengingat masa laluku. Masa
lalu yang membuatku terpuruk. Ya… sangat terpuruk.
Dua hari itu adalah hari ulang tahunku dan hari dimana tahun baru datang. Aku benci dua hari itu. Ya… sangat membencinya.
Hari ulang tahun. Dimana setiap anak akan bahagia ketika hari ulang tahunnya tiba. Tapi tidak bagiku. Aku selalu merasa takut ketika hari itu tiba. Karena di hari itu, aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Tanpa setitikpun kasih sayang. Tanpa setitikpun pengertian.
Aku ingat saat itu. Saat aku masih kecil. Aku tak bisa ingat saat itu berapa umurku. Pagi-pagi sekali ibu sudah berkutat di dapurnya.
“Ibu, ibu sedang apa?”, tanyaku. Saat itu aku baru saja bangun tidur. Dan mendengar suara-suara di dapur.
“Hai… Sayang, kau lupa? Hari ini hari ulang tahunmu!”, kata wanita yang kupanggil ibu itu. “Selamat ulang tahun sayang.”,tambahnya.
“Eh..oh… iya aku lupa!”, kataku disertai cengiran khas milikku.
Ibuku hanya mengacak-acak rambutku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Hatiku benar-benar bahagia.
“Sekarang, mandi dan pergi sekolah ya!”, kata ibuku lembut sekali.
“Tapi bu…”,aku mulai merajuk agar tidak berangkat sekolah hari ini.
“Tidak bisa Indi, kau harus tetap berangkat sekolah hari ini.”,itu suara kakakku. Terkadang dia membuatku menangis. Tapi menurutku itu bentuk kasih sayangnya. Daripada tak disapa sama sekali. Oh iya kakakku itu sudah anak kuliah semester 4 lho.
“Kaaaakkk…”
“…”,kakakku hanya menggeleng tanpa mengucapkan 1 katapun.
“Uh! Baik.. baik..”, kataku dan langsung ngeloyor ke kamar mandi.
Disekolah memang tak ada yang tau ulang tahunku. Dan aku tak berharap ucapan dari mereka. Yang ada dalam pikiranku hanya makan bersama keluargaku. Ayah, ibu, kakak dan aku. Memang hanya sepotong nasi kuning. Tapi yang lebih berarti bagiku adalah kebersamaan kami. Dan dengan itu artinya mereka mengakuiku karena mengingat ulang tahunku.
Malampun tiba. Tibalah ritual makan malam kami dengan satu hal yang special. Ulang tahunku. Kami tertawa bersama. Dan aku masih ingat saking bahagianya aku sampai salah makan cabe. Tapi karena kebahagian itu cabepun rasa gula.hhehehe,,,
Oh iya aku ingat itu hari ulang tahunku yang ke-10. Dan seingatku itulah hari terakhir ibuku ingat ulang tahunku. Bahkan ayah tak mau mengingatnya. Dan aku masih ingat hari itu hari terakhirku tersenyum dengan hati.
Ya… setelah itu semua berubah. Ibu sibuk dengan dirinya. Ayah sibuk dengan pekerjaannya. Sementara kakak harus fokus pada studynya.
Setiap tahun barupun begitu. Aku tak pernah mengenal tahun baru. Karna bagiku mengingat tahun baru sama saja membuka luka lama yang belum kering di hatiku.
Bahkan tahun ini. Tahun ini adalah ulang tahun ke 17. Yang kudapatkan tahun ini hanya kosong. Detik-detik menuju denting jam di 00.00 hanya kuisi dengan tangis. Aku menangis dalam diam. Karena kakakku satu-satunya sedang tidur disampingku. Aku hanya meniup lilin sendirian. Berharap semua berubah. Tak ada canda tawa. Tak ada pula salah makan cabe.
Yang ada hanya pilu. Ya… aku terus menangis dalam diam. Aku tak mau topengku retak. Aku tak mau orang tau seperti apa aku jika tanpa topeng ini. Meski itu didepan kakakku sendiri. Aku tak mau terlihat rapuh.
Ya… selama 11 tahun aku terus menggunakan topeng kokohku. Aku tersenyum pada semua orang. Aku berakting seolah-olah aku bahagia. Seolah-olah tak memiliki masalah. Aku tau aku munafik. Tapi biarlah. Rasa sakit ini, rasa kesepian ini terlalu sulit kubagi. Indi yang mereka kenal bukanlah Indi. Indi adalah sosok yang tak mereka tau.
Aku lebih nyaman menangis sendirian. Aku lebih menyukai menangis tanpa suara. Mungkin memang lebih menyayat. Tapi lebih melegakan.
“Air matamu bisa habis jika kau menangis terus, Indi!”, itu kata kakakku. Tapi itu dulu. Indi yang sekarang bukanlah orang yang akan tertipu dengan kata-kata penghibur seperti itu.
Memang sempat terlintas dibenakku. Ingin rasanya ketika aku menangis ada yang memelukku. Ada yang merelakan pundaknya untuk tempat ku bersandar. Ada yang menyediakan tangannya untuk merengkuhku dalam pelukannya dan membiarkanku menangis disana.
Tapi mana mungkin. Aku terlalu tertutup. Tak mudah bagiku membagi ceritaku pada orang lain. Aku menutupi itu semua dengan sok peduli pada orang lain. Padahal aku tak pernah memperdulikan diriku sendiri.
Hari tahun barupun terkena imbasnya. Seingatku saat itu aku kelas 1 SMP ketika aku mulai mengenal apa itu malam tahun baru. Ketika teman-temanku bercerita apa yang akan mereka lakukan bersama keluarga mereka. Aku hanya bisa diam.
“Indi.. Indi kau tahu nggak?”, tanya Rinda padaku.
“Nggak”, jawabku dengan nada ketus karena saat itu masih pelajaran dan gurunya mengerikan.
Kulihat temanku kecewa atas jawabanku. Aku sungguh merasa bersalah. Bagiku cukup aku saja yang terus merasakan rasa sakit dan kecewa. Aku tak mau temanku juga kecewa.
“Nanti saja ceritanya. Kamu mau kena marah?”, kataku dengan nada santai berharap kata-kata itu bisa mengobati kekecewaannya.
Bingo! Itu berhasil. Rinda tersenyum padaku. Sepertinya dia mengerti maksudku. Rinda itu sahabatku. Aku memang baru mengenalnya. Tapi aku merasa nyaman dengannya. Dan dia tahu aku paling tidak suka membuat masalah dengan guru. Karena orangtua itu merepotkan.
Bel istirahat tiba. Saatnya aku mendengarkan ocehan panjang dari cerita Rinda.
“Indi … kamu mau kemana malam tahun baru nanti?”, tanyanya.
Glek!!!! Aku menghentikan acara menulisku dan menatapnya. Lalu menelan ludah dengan terpaksa. Aku hanya menggeleng tanpa memasang ekspresi apa-apa. Lalu meneruskan acara mencatatku. Karena yang kutahu malam tahun baru hanya tidur selama 1 tahun.
“Tidak kemana-mana ya.”, seolah dia sedih mengetahui jawabanku. “Bagaimana kalau kerumahku”, tambahnya.
“Aku mendengarkan.”, kataku lalu berhenti menulis.
“Begini. Setiap tahun jika malam tahun baru aku dan keluargaku selalu bakar jagung atau apapun. Kadang bakar daging ayam, sapi. Apapun yang kami beli. Oh iya jangan lupakan kembang apinya. Jadi sambil bakar-bakar kami menyalakan kembang api.”, jelasnya panjang lebar.
“Ooooo”, hanya itulah yang keluar dari mulutku.
“Tadi katamu kan kau tidak kemana-mana jadi menginap di rumahku saja. Kita menghabiskan malam tahun baru bersama.”, ajaknya padaku.
Aku tersenyum mendengar ajakannya. Kemudian aku berpikir. Rasanya pasti senang sekali bisa menghabiskan malam tahun baru dengan keluarga Rinda. Keluarga Rinda juga baik padaku. Tapi jika aku membicarakannya pada ibu. Pasti yang kudapat hanya kata tidak dari mulut ibu. Dan ceramah panjang yang sangat tidak penting dari ayah. Kak Upi’ tidak pulang minggu ini, karena ada tugas yang harus diselesaikan. Seandainya ada kak Upi’. Sayangnya dia harus kuliah di luar kota.
“Sepertinya tidak bisa.”, jawabku . “Sebenarnya aku ingin. Tapi… itu akan membuat masalah baru kurasa.”, jawabku seadanya. Rinda sudah tau bagaimana keluargaku. Meskipun dia tidak tau apa yang kurasakan. Tapi dia tau bagaimana aku dan bagaimana keluargaku. Walau yang dia tau adalah topengku. Tapi aku tak pernah menceritakan padanya. Baru sekali aku mengajaknya maen kerumah. Dan dia langsung tau bagaimana keluargaku. Rinda memang luar biasa.
“Baiklah, tak apa-apa.”, katanya sambil merangkulku. Tak terlihat raut kekecewaan diwajahnya.
Ya… dan malam tahun baru hanya yang kesekian kalinya hanya kulewatkan dengan tidur. Karena jika aku membuka mataku. Aku akan mengingat semua luka yang tergores di hatiku. Aku akan menyadari bahwa aku kesepian. Aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Itu membuatku marah. Biasanya saat seperti itu kulampiaskan pada tembok atau apalah.
Aku tau itu menyebabkan luka di tubuhku. Tapi siapa peduli. Luka-luka ditubuhku lebih nyata dan akan sembuh lalu menghilang bekasnya setelah beberapa hari. Tapi luka dihatiku entah akan sembuh atau tidak aku tak tau.
Seandainya 2 hari itu tak pernah ada. Tapi mana mungkin. Hari itu akan tetap ada dan tetap menciptakan luka.
Harapanku sekarang hanyalah semoga ada orang yang mau menyembuhkan dan menghapuskan luka ini. Sehingga aku tak perlu lagi bertopeng seperti ini.
Hari ulang tahunku yang tak jauh dengan tahun baru telah terlewatkan. Biasa saja ditagun ini,yang katanya umur 17 itu “sweet seventeen” tapi apalah, itu hanya untuk orang yang bahagia, sedang aku, gadis pendiam, lugu, tak atahu apa-apa. Pikiran itu selalu ada.
“Dorrrrrr...”, suara Rinda mengagetkanku yang sedang meratapinasib gadis malang ini, ”nglamun aja non, ntar kalau ada setan lewat gimana?” Rinda itu teman baik yang lucu sekali, dia hibur kalau aku diam.
“ya kalau setannya cewek aku jadikan saudaraku, kalau cowok aku jadikan,,,,, pacar,, hahhaah”, aku mencoba buat banyolan lucu.
“Emang sayembara, sama setan kok mau. Udah, kantin yuk, laper,,”, aku pikir sejenak, karena malas sekali untuk jalan kekantin ujung. ”Udah, aku traktir deh,”.
Sepanjang jalan kekantin Rinda hanya berceloteh dengan rencana tahun baru yang buat aku iri, tapi aku tetap dengarkan cerita itu sih.
“Ndi, ayolah ikut. Ntar aku ngomong sama orangruamu,sekali-kali kan boleh. Udah besar kita itu”, sambil ngrengek-ngrengek dia.
“Ya, ayo kerumah, kamu yang ngomong ya,”, sambil aku tersentum,dan berdoa semoga dapat ijin lah.
“Siap bos.”, Rinda girang banget.
Aku dan Rinda coba bilang ke ibuku agar dapat ijin untuk merrayakan tahun baru bersama.
“Ibu, aku diajak Rinda untuk tahun baru dirumahnya, boleh ya,” sedikit melas agar dibolehin sama ibu.
“Iya tante, boleh ya. Mumpung tahun baru tante, setaun sekali lho tante,” coba meyakinkan ibuku. Raut muka ibu yang gak pasti buat ku deg-degan ni. Tapi, mulut ibu mulai membuka.
“baiklah, ibu ijinkan, asal satu syarat,”, belum selesai ibu ngomong aku udah nyambung.
“apa aja syaratnya, Indi lakukkan ibu”.
“Dengan syarat kamu gak boleh merepotkan di sana, jangan bikin malu ibu,” denagan jawaban itu aku loncat kegirangan.
“Ok ibu ku manis, janji gak macem-macem,” sambil aku hormat sama ketawa.
“Iya tante, Indi itu baik kok, jadi gak merepotkan,” Rinda menimpali kalimat yang buat ibu tersenyum.
Aku tiap malam udah mimpiin dan gak sabar dengan tahun baru yang akan ku alami ini. Dan yang aku tunggu datang. Aku menginap ditempat Rinda, aku sangat dekat dengan keluarga dia, begitupun sebaliknya. Aku udah tidak sabar dengan waktu yang berputar serasa lambat sekali untuk mencapai 00.00. Kami menikmati diatas sebuah gasebo yang nyaman ini.
Waktu tinggal beberapa detik lagi, aku dan keluarga Rinda hitung mundur.
“Kita hitung mundur yuk,” kata dari ayah Rinda yang tidak sabar dengan tahun baru ini juga.
“10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1,” kitaa ucapkan bersama-sama.dan tahun baru saat puku l 00.00. Suara terompet kita bersaut-sautan.
“Selamat tahu baru”, semua berteriak.
“Selamat tahun baru, Rin”, sambil memeluk aku.
“Selamat thaun baru juga ya, Ndi. Semoga ditahun baru ini kita tambah baik”, aku hampir saja meneteskan air mata, baru kali ini aku merasakan tahun baru waalupun tidak dengan keluarga. Rinda dan keluarganya juga saling memeluk dan ucapkan selamat tahun baru. Aku juga ikut dipeluknya, jadi iri dengan keluarga Rinda.
Tiba-tiba dari belakang,
“Dor,,,”, suara kakaku yang katanya lagi sibuk studynya kok tiba-tiba ada didepanku.
“Selmat ulang tahun sayangku”, ucapan manis dari seorang wanita yang membawa kue ulang tahun yang jelas karena namaku ada disana yang ditemani oleh seorang lelaki paruh baya. Ya, dia orang tuaku yang merawatku dari lahir hingga sebesar ini.
Mereka bernyanyi selamat ulang tahun untukku, ternyata keluargaku dan keluarga Rinda yang merecanakan ini semua. Aku merasakan senang sekali. Ibu meminta meniup lilin 17 ini, dan diminta aku memohon doa.
Aku menutup mata ini sambil berdoa. Ya ALLAH aku minta agar dapat seperti keluarga lain yang damai, seneng. Aku juga makasih sudah diberi teman yang baik seperti Rinda, semoga umurku ini aku makin baik. Aminnnnn..
“buffff,,,bufff” aku tiup lilin itu dan mereka memberi selamt untukku dan menciumiku.
“Indi, semoga kamu jadi anak yang lebih baik diumurmu yang semakin dewasa”, kata dari ibuku sambil aku dipeluknya. ”maaf, ibu baru merayakannya”.
“iya bu, tak apa.” sambil mencoba mengusap air mata ibu yang jatuh.
“Ndi, jadilah anak yang membanggakan untuk orangtuamu ini ya”, ayah yang tak pernah berucap begitu, aku begitu terharu. Tak lupa kakakku.
“Adikku paling manis, udah gede kudu pinter-pinter mana yang bener ama tidak ya, mmmmmuuuuaaaaccchh”, aku merasa terharu dengan kakak ku ini.
“Indi, selamat ulang tahun, sweetseventeen moga dapat pacar, hhehheh”, dia mencoba bercanda. Aku dan semua hanya tartawa dengan kalimat Rinda.”
Kami akhirnya menikmati malam tahun baru dan ulang tahunku yang ke 17 dengan manis. Tak pernah aku bayangkan akan seindah ini yang jauh dari pikiranku. Aku bersyukur diberikan keluarga yang sayang denganku, teman yang selalu temani aku disaat sedih dan menghibur.
Ku melamun sendiri memandang mereka yang asyik menikmati malam di gasebo dekat kolam renang. Aku tersenyum sendiri, betapa beruntungnya aku ini dilahirkan, dibesarkan. Aku tak perlu menuntun apa-apa, semua ada, hanya kasih sayang kurang untukku tapi aku merasa senang. Aku tahu kedua orangtuaku bekerja untukku. Kebahagiaan memang tak pernah dapat dinilai, hanya dapat dirasakan. Karena makna kebahagiaan akan datang dengan sendirinya seperti kita memaknai hidup ini.
Aku sadar 2 hari yang tak pernah aku senangi ini berbuah manis di tahun baru dan ulang tahunku ini. Aku tak akan melupakan hari ini.
Karena asyik melamun aku tak tahu kalau didekatku ada Rinda yang tiba-tiba mengagetkannku. Dan aku didorong ke kolam renang. Huft,, sial,,, aku hanya tertawa dan yang lain ikut tertawa.hahahah,,
Dua hari itu adalah hari ulang tahunku dan hari dimana tahun baru datang. Aku benci dua hari itu. Ya… sangat membencinya.
Hari ulang tahun. Dimana setiap anak akan bahagia ketika hari ulang tahunnya tiba. Tapi tidak bagiku. Aku selalu merasa takut ketika hari itu tiba. Karena di hari itu, aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Tanpa setitikpun kasih sayang. Tanpa setitikpun pengertian.
Aku ingat saat itu. Saat aku masih kecil. Aku tak bisa ingat saat itu berapa umurku. Pagi-pagi sekali ibu sudah berkutat di dapurnya.
“Ibu, ibu sedang apa?”, tanyaku. Saat itu aku baru saja bangun tidur. Dan mendengar suara-suara di dapur.
“Hai… Sayang, kau lupa? Hari ini hari ulang tahunmu!”, kata wanita yang kupanggil ibu itu. “Selamat ulang tahun sayang.”,tambahnya.
“Eh..oh… iya aku lupa!”, kataku disertai cengiran khas milikku.
Ibuku hanya mengacak-acak rambutku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Hatiku benar-benar bahagia.
“Sekarang, mandi dan pergi sekolah ya!”, kata ibuku lembut sekali.
“Tapi bu…”,aku mulai merajuk agar tidak berangkat sekolah hari ini.
“Tidak bisa Indi, kau harus tetap berangkat sekolah hari ini.”,itu suara kakakku. Terkadang dia membuatku menangis. Tapi menurutku itu bentuk kasih sayangnya. Daripada tak disapa sama sekali. Oh iya kakakku itu sudah anak kuliah semester 4 lho.
“Kaaaakkk…”
“…”,kakakku hanya menggeleng tanpa mengucapkan 1 katapun.
“Uh! Baik.. baik..”, kataku dan langsung ngeloyor ke kamar mandi.
Disekolah memang tak ada yang tau ulang tahunku. Dan aku tak berharap ucapan dari mereka. Yang ada dalam pikiranku hanya makan bersama keluargaku. Ayah, ibu, kakak dan aku. Memang hanya sepotong nasi kuning. Tapi yang lebih berarti bagiku adalah kebersamaan kami. Dan dengan itu artinya mereka mengakuiku karena mengingat ulang tahunku.
Malampun tiba. Tibalah ritual makan malam kami dengan satu hal yang special. Ulang tahunku. Kami tertawa bersama. Dan aku masih ingat saking bahagianya aku sampai salah makan cabe. Tapi karena kebahagian itu cabepun rasa gula.hhehehe,,,
Oh iya aku ingat itu hari ulang tahunku yang ke-10. Dan seingatku itulah hari terakhir ibuku ingat ulang tahunku. Bahkan ayah tak mau mengingatnya. Dan aku masih ingat hari itu hari terakhirku tersenyum dengan hati.
Ya… setelah itu semua berubah. Ibu sibuk dengan dirinya. Ayah sibuk dengan pekerjaannya. Sementara kakak harus fokus pada studynya.
Setiap tahun barupun begitu. Aku tak pernah mengenal tahun baru. Karna bagiku mengingat tahun baru sama saja membuka luka lama yang belum kering di hatiku.
Bahkan tahun ini. Tahun ini adalah ulang tahun ke 17. Yang kudapatkan tahun ini hanya kosong. Detik-detik menuju denting jam di 00.00 hanya kuisi dengan tangis. Aku menangis dalam diam. Karena kakakku satu-satunya sedang tidur disampingku. Aku hanya meniup lilin sendirian. Berharap semua berubah. Tak ada canda tawa. Tak ada pula salah makan cabe.
Yang ada hanya pilu. Ya… aku terus menangis dalam diam. Aku tak mau topengku retak. Aku tak mau orang tau seperti apa aku jika tanpa topeng ini. Meski itu didepan kakakku sendiri. Aku tak mau terlihat rapuh.
Ya… selama 11 tahun aku terus menggunakan topeng kokohku. Aku tersenyum pada semua orang. Aku berakting seolah-olah aku bahagia. Seolah-olah tak memiliki masalah. Aku tau aku munafik. Tapi biarlah. Rasa sakit ini, rasa kesepian ini terlalu sulit kubagi. Indi yang mereka kenal bukanlah Indi. Indi adalah sosok yang tak mereka tau.
Aku lebih nyaman menangis sendirian. Aku lebih menyukai menangis tanpa suara. Mungkin memang lebih menyayat. Tapi lebih melegakan.
“Air matamu bisa habis jika kau menangis terus, Indi!”, itu kata kakakku. Tapi itu dulu. Indi yang sekarang bukanlah orang yang akan tertipu dengan kata-kata penghibur seperti itu.
Memang sempat terlintas dibenakku. Ingin rasanya ketika aku menangis ada yang memelukku. Ada yang merelakan pundaknya untuk tempat ku bersandar. Ada yang menyediakan tangannya untuk merengkuhku dalam pelukannya dan membiarkanku menangis disana.
Tapi mana mungkin. Aku terlalu tertutup. Tak mudah bagiku membagi ceritaku pada orang lain. Aku menutupi itu semua dengan sok peduli pada orang lain. Padahal aku tak pernah memperdulikan diriku sendiri.
Hari tahun barupun terkena imbasnya. Seingatku saat itu aku kelas 1 SMP ketika aku mulai mengenal apa itu malam tahun baru. Ketika teman-temanku bercerita apa yang akan mereka lakukan bersama keluarga mereka. Aku hanya bisa diam.
“Indi.. Indi kau tahu nggak?”, tanya Rinda padaku.
“Nggak”, jawabku dengan nada ketus karena saat itu masih pelajaran dan gurunya mengerikan.
Kulihat temanku kecewa atas jawabanku. Aku sungguh merasa bersalah. Bagiku cukup aku saja yang terus merasakan rasa sakit dan kecewa. Aku tak mau temanku juga kecewa.
“Nanti saja ceritanya. Kamu mau kena marah?”, kataku dengan nada santai berharap kata-kata itu bisa mengobati kekecewaannya.
Bingo! Itu berhasil. Rinda tersenyum padaku. Sepertinya dia mengerti maksudku. Rinda itu sahabatku. Aku memang baru mengenalnya. Tapi aku merasa nyaman dengannya. Dan dia tahu aku paling tidak suka membuat masalah dengan guru. Karena orangtua itu merepotkan.
Bel istirahat tiba. Saatnya aku mendengarkan ocehan panjang dari cerita Rinda.
“Indi … kamu mau kemana malam tahun baru nanti?”, tanyanya.
Glek!!!! Aku menghentikan acara menulisku dan menatapnya. Lalu menelan ludah dengan terpaksa. Aku hanya menggeleng tanpa memasang ekspresi apa-apa. Lalu meneruskan acara mencatatku. Karena yang kutahu malam tahun baru hanya tidur selama 1 tahun.
“Tidak kemana-mana ya.”, seolah dia sedih mengetahui jawabanku. “Bagaimana kalau kerumahku”, tambahnya.
“Aku mendengarkan.”, kataku lalu berhenti menulis.
“Begini. Setiap tahun jika malam tahun baru aku dan keluargaku selalu bakar jagung atau apapun. Kadang bakar daging ayam, sapi. Apapun yang kami beli. Oh iya jangan lupakan kembang apinya. Jadi sambil bakar-bakar kami menyalakan kembang api.”, jelasnya panjang lebar.
“Ooooo”, hanya itulah yang keluar dari mulutku.
“Tadi katamu kan kau tidak kemana-mana jadi menginap di rumahku saja. Kita menghabiskan malam tahun baru bersama.”, ajaknya padaku.
Aku tersenyum mendengar ajakannya. Kemudian aku berpikir. Rasanya pasti senang sekali bisa menghabiskan malam tahun baru dengan keluarga Rinda. Keluarga Rinda juga baik padaku. Tapi jika aku membicarakannya pada ibu. Pasti yang kudapat hanya kata tidak dari mulut ibu. Dan ceramah panjang yang sangat tidak penting dari ayah. Kak Upi’ tidak pulang minggu ini, karena ada tugas yang harus diselesaikan. Seandainya ada kak Upi’. Sayangnya dia harus kuliah di luar kota.
“Sepertinya tidak bisa.”, jawabku . “Sebenarnya aku ingin. Tapi… itu akan membuat masalah baru kurasa.”, jawabku seadanya. Rinda sudah tau bagaimana keluargaku. Meskipun dia tidak tau apa yang kurasakan. Tapi dia tau bagaimana aku dan bagaimana keluargaku. Walau yang dia tau adalah topengku. Tapi aku tak pernah menceritakan padanya. Baru sekali aku mengajaknya maen kerumah. Dan dia langsung tau bagaimana keluargaku. Rinda memang luar biasa.
“Baiklah, tak apa-apa.”, katanya sambil merangkulku. Tak terlihat raut kekecewaan diwajahnya.
Ya… dan malam tahun baru hanya yang kesekian kalinya hanya kulewatkan dengan tidur. Karena jika aku membuka mataku. Aku akan mengingat semua luka yang tergores di hatiku. Aku akan menyadari bahwa aku kesepian. Aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Itu membuatku marah. Biasanya saat seperti itu kulampiaskan pada tembok atau apalah.
Aku tau itu menyebabkan luka di tubuhku. Tapi siapa peduli. Luka-luka ditubuhku lebih nyata dan akan sembuh lalu menghilang bekasnya setelah beberapa hari. Tapi luka dihatiku entah akan sembuh atau tidak aku tak tau.
Seandainya 2 hari itu tak pernah ada. Tapi mana mungkin. Hari itu akan tetap ada dan tetap menciptakan luka.
Harapanku sekarang hanyalah semoga ada orang yang mau menyembuhkan dan menghapuskan luka ini. Sehingga aku tak perlu lagi bertopeng seperti ini.
Hari ulang tahunku yang tak jauh dengan tahun baru telah terlewatkan. Biasa saja ditagun ini,yang katanya umur 17 itu “sweet seventeen” tapi apalah, itu hanya untuk orang yang bahagia, sedang aku, gadis pendiam, lugu, tak atahu apa-apa. Pikiran itu selalu ada.
“Dorrrrrr...”, suara Rinda mengagetkanku yang sedang meratapinasib gadis malang ini, ”nglamun aja non, ntar kalau ada setan lewat gimana?” Rinda itu teman baik yang lucu sekali, dia hibur kalau aku diam.
“ya kalau setannya cewek aku jadikan saudaraku, kalau cowok aku jadikan,,,,, pacar,, hahhaah”, aku mencoba buat banyolan lucu.
“Emang sayembara, sama setan kok mau. Udah, kantin yuk, laper,,”, aku pikir sejenak, karena malas sekali untuk jalan kekantin ujung. ”Udah, aku traktir deh,”.
Sepanjang jalan kekantin Rinda hanya berceloteh dengan rencana tahun baru yang buat aku iri, tapi aku tetap dengarkan cerita itu sih.
“Ndi, ayolah ikut. Ntar aku ngomong sama orangruamu,sekali-kali kan boleh. Udah besar kita itu”, sambil ngrengek-ngrengek dia.
“Ya, ayo kerumah, kamu yang ngomong ya,”, sambil aku tersentum,dan berdoa semoga dapat ijin lah.
“Siap bos.”, Rinda girang banget.
Aku dan Rinda coba bilang ke ibuku agar dapat ijin untuk merrayakan tahun baru bersama.
“Ibu, aku diajak Rinda untuk tahun baru dirumahnya, boleh ya,” sedikit melas agar dibolehin sama ibu.
“Iya tante, boleh ya. Mumpung tahun baru tante, setaun sekali lho tante,” coba meyakinkan ibuku. Raut muka ibu yang gak pasti buat ku deg-degan ni. Tapi, mulut ibu mulai membuka.
“baiklah, ibu ijinkan, asal satu syarat,”, belum selesai ibu ngomong aku udah nyambung.
“apa aja syaratnya, Indi lakukkan ibu”.
“Dengan syarat kamu gak boleh merepotkan di sana, jangan bikin malu ibu,” denagan jawaban itu aku loncat kegirangan.
“Ok ibu ku manis, janji gak macem-macem,” sambil aku hormat sama ketawa.
“Iya tante, Indi itu baik kok, jadi gak merepotkan,” Rinda menimpali kalimat yang buat ibu tersenyum.
Aku tiap malam udah mimpiin dan gak sabar dengan tahun baru yang akan ku alami ini. Dan yang aku tunggu datang. Aku menginap ditempat Rinda, aku sangat dekat dengan keluarga dia, begitupun sebaliknya. Aku udah tidak sabar dengan waktu yang berputar serasa lambat sekali untuk mencapai 00.00. Kami menikmati diatas sebuah gasebo yang nyaman ini.
Waktu tinggal beberapa detik lagi, aku dan keluarga Rinda hitung mundur.
“Kita hitung mundur yuk,” kata dari ayah Rinda yang tidak sabar dengan tahun baru ini juga.
“10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1,” kitaa ucapkan bersama-sama.dan tahun baru saat puku l 00.00. Suara terompet kita bersaut-sautan.
“Selamat tahu baru”, semua berteriak.
“Selamat tahun baru, Rin”, sambil memeluk aku.
“Selamat thaun baru juga ya, Ndi. Semoga ditahun baru ini kita tambah baik”, aku hampir saja meneteskan air mata, baru kali ini aku merasakan tahun baru waalupun tidak dengan keluarga. Rinda dan keluarganya juga saling memeluk dan ucapkan selamat tahun baru. Aku juga ikut dipeluknya, jadi iri dengan keluarga Rinda.
Tiba-tiba dari belakang,
“Dor,,,”, suara kakaku yang katanya lagi sibuk studynya kok tiba-tiba ada didepanku.
“Selmat ulang tahun sayangku”, ucapan manis dari seorang wanita yang membawa kue ulang tahun yang jelas karena namaku ada disana yang ditemani oleh seorang lelaki paruh baya. Ya, dia orang tuaku yang merawatku dari lahir hingga sebesar ini.
Mereka bernyanyi selamat ulang tahun untukku, ternyata keluargaku dan keluarga Rinda yang merecanakan ini semua. Aku merasakan senang sekali. Ibu meminta meniup lilin 17 ini, dan diminta aku memohon doa.
Aku menutup mata ini sambil berdoa. Ya ALLAH aku minta agar dapat seperti keluarga lain yang damai, seneng. Aku juga makasih sudah diberi teman yang baik seperti Rinda, semoga umurku ini aku makin baik. Aminnnnn..
“buffff,,,bufff” aku tiup lilin itu dan mereka memberi selamt untukku dan menciumiku.
“Indi, semoga kamu jadi anak yang lebih baik diumurmu yang semakin dewasa”, kata dari ibuku sambil aku dipeluknya. ”maaf, ibu baru merayakannya”.
“iya bu, tak apa.” sambil mencoba mengusap air mata ibu yang jatuh.
“Ndi, jadilah anak yang membanggakan untuk orangtuamu ini ya”, ayah yang tak pernah berucap begitu, aku begitu terharu. Tak lupa kakakku.
“Adikku paling manis, udah gede kudu pinter-pinter mana yang bener ama tidak ya, mmmmmuuuuaaaaccchh”, aku merasa terharu dengan kakak ku ini.
“Indi, selamat ulang tahun, sweetseventeen moga dapat pacar, hhehheh”, dia mencoba bercanda. Aku dan semua hanya tartawa dengan kalimat Rinda.”
Kami akhirnya menikmati malam tahun baru dan ulang tahunku yang ke 17 dengan manis. Tak pernah aku bayangkan akan seindah ini yang jauh dari pikiranku. Aku bersyukur diberikan keluarga yang sayang denganku, teman yang selalu temani aku disaat sedih dan menghibur.
Ku melamun sendiri memandang mereka yang asyik menikmati malam di gasebo dekat kolam renang. Aku tersenyum sendiri, betapa beruntungnya aku ini dilahirkan, dibesarkan. Aku tak perlu menuntun apa-apa, semua ada, hanya kasih sayang kurang untukku tapi aku merasa senang. Aku tahu kedua orangtuaku bekerja untukku. Kebahagiaan memang tak pernah dapat dinilai, hanya dapat dirasakan. Karena makna kebahagiaan akan datang dengan sendirinya seperti kita memaknai hidup ini.
Aku sadar 2 hari yang tak pernah aku senangi ini berbuah manis di tahun baru dan ulang tahunku ini. Aku tak akan melupakan hari ini.
Karena asyik melamun aku tak tahu kalau didekatku ada Rinda yang tiba-tiba mengagetkannku. Dan aku didorong ke kolam renang. Huft,, sial,,, aku hanya tertawa dan yang lain ikut tertawa.hahahah,,
PENANTIAN CINTAKU
Penantian kata itu yang selalu terucap di bibir ku,hanya berharap dan
menanti kau datang dan mengambil cinta dariku. Awal bulan February pun
telah berlalu hampir 3 bulan lebih aku menantinya berharap apa yang aku
nanti bisa ku dapatkan kembali. Namun apa semua nya di luar dugaan
ku,tak kusangka penantian ku selama 3 bulan ini akan menjadi sia-sia
hanya karna kau telah mempunyai cinta yang lain.
Kecewa,terluka yang aku rasakan saat itu. Hamparan penantian kosong yang kini masih tertinggal di kehidupan ku, tak tau apa yang harus aku lakukan lagi semua nya terasa berat aku jalani.
Hari-Hari ku yang dulu ceria kini menjadi suram aku hanya bisa terdiam membisu memikirkan apa yang telah terjadi padaku, seakan-akan aku tak percaya dengan semua ini, sesekali aku berfikir mungkin ini hanya mimpi bukan kenyataan. Namun setelah aku terbangun ternyata semua nya bukan mimpi, kini kau telah bahagia dengan cinta yang lain.
Saat itu aku yang duduk di kelas XII di sebuah sekolah swasta di daerah plered-purwakarta. Mengalami defresi berat karna semua di luar dugaanku. Kehadiaran ku di sekolahan pun menurun, aku yang tadinya tak pernah membolos kini sering membolos hanya karna memikir kan cinta dan wanita saja. Surat dari kepala sekolah dan guru BP pun berdatangan.
Begitu lah isi surat panggilan untuk orang tua ku dari sekolahan ku yang sempat aku baca. Sesampainya surat itu kepada kedua orang tua ku mereka marah besar kepada ku,kecewa dangan apa yang telah aku lakukan sehingga surat panggilan dating dari sekolah.
Aku yang sedang duduk di kursi saat itu sambil mengotak-atik Hp ku tiba-tiba . . . .
“GUPRAKKKKKKKKKK” . . . .
Sebuah suara di atas meja yang ada di depan ku, saat aku lihat ternyata tangan mama yang sedang memukul meja dengan sebuah surat di tangan. Kaget saat aku melihat nya.
“ini yang di namakan sekolah . . . . . .?” Terdengar jelas di telinga ku suara kemarahan dari mama,
aku hanya bisa terdiam saat itu menyesali apa yang telah aku lakukan. Mengecewakan sosok seorang mama.
“maafin aku mama . . .” Ucapaku dalam hati kecil ini,
Terdengar mama menangis seperti tak percaya dengan apa telah aku lakukan. Hanya gara-gara sebuah cinta dan wanita aku harus melihat mama menetes kan air mata. Saat itu aku mencoba untuk melupakan apa yang 3 bulan lalu terjadi, kini mama udah kembali lagi ceria dan mau memaafkan kesalahan ku.
“aku janji sama mama aku gak akan ngecewain lagi mama dan buat mama meneteskan air mata untuk yang kedua kali nya” Kata itu yang aku ucapkan kepada mama.
“makasih nak, belajar lah yang rajin mama gak mau liat kamu susah. Karena kehidupan sesungguhnya akan kamu rasakan nanti setelah kamu berkeluarga.” Jawab mama yang penuh senyum dan sambil mengelus pundak ku, seperti mama gak mau melihatku mempunyai beban.
Terlalu pahit penantian ku terhadap mu,hamparan luka yang kini aku terima walau pun aku udah janji sama mama untuk melupakan itu semua namun sulit bagiku, bayangan nya selalu menghantui hidup ku semakin aku mencoba melupakan nya semakin sakit hati ini. Seperti tak ada cara lain hanya diri mu yang mampu mengobatinya. Sesampai nya aku di rumah lamun lagi yang aku perlihatkan, sesekali mama memperhatikanku.
“anak ku lagi terluka dan patah hati” Goda mama kepada ku.
“apaan sich mama ini . . .” Jawab ku sambil sedikit tersenyum karna gak mau melihat mama ikut sedih.
“udah gak usah bohong sama mama, mama juga tau kok. Karena mama juga kan pernah muda kaya kamu, jadi pernah ngalamin.“ Jawab mama sambil menghibur ku agar aku gak terus-terusan terpuruk dalam kesedihan.
“bener gak ada apa-apa kok mama , , , , !!!!! ya, iya atuh mama pernah muda masa mama tua dulu sich?” Balas ku menggoda mama.
Obrolan pun berlanjut tak terasa sore pun telah tiba,saking asyik nya ngobrol ama mama sampai-sampai aku lupa tadi mau makan siang. Canda tawa yang tadi bersama mama hilang sudah saat aku kembali ingat sosok bayangan nya lagi, entah kenapa bayangan nya terus menghantui, rasa rindu kepadanya pun semakin menjadi walau aku tau dia kini bahagia bersama orang lain. Hanya penantian dan harapan yang masih aku simpan untuk nya walau aku sendiri tak tau sampai kapan penantian ini akan berakhir.
Kecewa,terluka yang aku rasakan saat itu. Hamparan penantian kosong yang kini masih tertinggal di kehidupan ku, tak tau apa yang harus aku lakukan lagi semua nya terasa berat aku jalani.
Hari-Hari ku yang dulu ceria kini menjadi suram aku hanya bisa terdiam membisu memikirkan apa yang telah terjadi padaku, seakan-akan aku tak percaya dengan semua ini, sesekali aku berfikir mungkin ini hanya mimpi bukan kenyataan. Namun setelah aku terbangun ternyata semua nya bukan mimpi, kini kau telah bahagia dengan cinta yang lain.
Saat itu aku yang duduk di kelas XII di sebuah sekolah swasta di daerah plered-purwakarta. Mengalami defresi berat karna semua di luar dugaanku. Kehadiaran ku di sekolahan pun menurun, aku yang tadinya tak pernah membolos kini sering membolos hanya karna memikir kan cinta dan wanita saja. Surat dari kepala sekolah dan guru BP pun berdatangan.
“Asslamualikum.wr.wb.”
Kepada orang tua murid saya selaku wali kelasnya Rian Sulaeman Farhi meminta ibu/bapak untuk hadir kesekolah membicarakan kehadiaran rian selama 1 bulan ini.
Begitu lah isi surat panggilan untuk orang tua ku dari sekolahan ku yang sempat aku baca. Sesampainya surat itu kepada kedua orang tua ku mereka marah besar kepada ku,kecewa dangan apa yang telah aku lakukan sehingga surat panggilan dating dari sekolah.
Aku yang sedang duduk di kursi saat itu sambil mengotak-atik Hp ku tiba-tiba . . . .
“GUPRAKKKKKKKKKK” . . . .
Sebuah suara di atas meja yang ada di depan ku, saat aku lihat ternyata tangan mama yang sedang memukul meja dengan sebuah surat di tangan. Kaget saat aku melihat nya.
“ini yang di namakan sekolah . . . . . .?” Terdengar jelas di telinga ku suara kemarahan dari mama,
aku hanya bisa terdiam saat itu menyesali apa yang telah aku lakukan. Mengecewakan sosok seorang mama.
“maafin aku mama . . .” Ucapaku dalam hati kecil ini,
Terdengar mama menangis seperti tak percaya dengan apa telah aku lakukan. Hanya gara-gara sebuah cinta dan wanita aku harus melihat mama menetes kan air mata. Saat itu aku mencoba untuk melupakan apa yang 3 bulan lalu terjadi, kini mama udah kembali lagi ceria dan mau memaafkan kesalahan ku.
“aku janji sama mama aku gak akan ngecewain lagi mama dan buat mama meneteskan air mata untuk yang kedua kali nya” Kata itu yang aku ucapkan kepada mama.
“makasih nak, belajar lah yang rajin mama gak mau liat kamu susah. Karena kehidupan sesungguhnya akan kamu rasakan nanti setelah kamu berkeluarga.” Jawab mama yang penuh senyum dan sambil mengelus pundak ku, seperti mama gak mau melihatku mempunyai beban.
* * *
Mentari pagi pun mulai
terbit seperti biasa mama yang selalu bangunin aku buat sekolah,
sesampainya aku di sekolah dan duduk di kelas hanya lamunan yang aku
perlihat kan kepada temen-temen dan semua orang.Terlalu pahit penantian ku terhadap mu,hamparan luka yang kini aku terima walau pun aku udah janji sama mama untuk melupakan itu semua namun sulit bagiku, bayangan nya selalu menghantui hidup ku semakin aku mencoba melupakan nya semakin sakit hati ini. Seperti tak ada cara lain hanya diri mu yang mampu mengobatinya. Sesampai nya aku di rumah lamun lagi yang aku perlihatkan, sesekali mama memperhatikanku.
“anak ku lagi terluka dan patah hati” Goda mama kepada ku.
“apaan sich mama ini . . .” Jawab ku sambil sedikit tersenyum karna gak mau melihat mama ikut sedih.
“udah gak usah bohong sama mama, mama juga tau kok. Karena mama juga kan pernah muda kaya kamu, jadi pernah ngalamin.“ Jawab mama sambil menghibur ku agar aku gak terus-terusan terpuruk dalam kesedihan.
“bener gak ada apa-apa kok mama , , , , !!!!! ya, iya atuh mama pernah muda masa mama tua dulu sich?” Balas ku menggoda mama.
Obrolan pun berlanjut tak terasa sore pun telah tiba,saking asyik nya ngobrol ama mama sampai-sampai aku lupa tadi mau makan siang. Canda tawa yang tadi bersama mama hilang sudah saat aku kembali ingat sosok bayangan nya lagi, entah kenapa bayangan nya terus menghantui, rasa rindu kepadanya pun semakin menjadi walau aku tau dia kini bahagia bersama orang lain. Hanya penantian dan harapan yang masih aku simpan untuk nya walau aku sendiri tak tau sampai kapan penantian ini akan berakhir.
Langganan:
Postingan (Atom)

